Sabtu, 16 Mei 2009

C I N T A

Cinta. Kata ini telah membuktikan keampuhannya dalam mempengaruhi pikiran saudara-saudaraku. Cinta yang diterjemahkan dengan cara dangkal telah menjauhkan saudaraku dari silaturahmi. Cinta yang terjemahannya disertakan dalam cerita-cerita picisan yang sesungguhnya tiada bernilai, di ulang dan di lanjutkan secara kontiniu sehinga menimbulkan persepsi yang seperti sekarang ini dengan menggunakan berbagai media. Cerita cinta picisan ada di semua media komunikasi. Diulang dan dipoles sedemikian rupa, sehingga menutupi makna cinta yang sesungguhnya.
Adapun makna cinta itu sendiri, sesungguhnya sangatlah dalam dan agung. Dalam yang tidak dapat diukur tingkat kedalamannya. Agung yang tiada satupun yang berhak mendua i nya. Cinta bukanlah sesuatu yang dapat ditimbulkan atau di buat sekehendak hati manusia. Cinta itu murni karunia dari Sang Pencipta.
Pada cerita cinta picisan, terlihat makna bahwa cinta itu datang dari mata yang turun ke hati. Ini adalah sebuah ungkapan yang sangat-sangat salah. Apakah kita mencintai orang tua (ayah dan ibu) kita? Dari matakah cinta itu datangnya lalu turun ke hati?
Atau ini akan dikelompok kan ke dalam pengelompokkan cinta yang lain?
Jangan biarkan pikiran suadara dipolitisasi untuk mendangkalkan makna cinta.
Cerita cinta picisan lainnya adalah sebuah teka-teki yang belum terjawab “cantikkah yang membuat orang jatuh cinta, atau cintakah yang membuat orang jadi cantik?” kemudian cerita picisan itu dibumbui dengan kebersamaan yang cukup panjang akan menumbuhkan benih-benih cinta. DUSTA BESAR.
Kalimat asli dari cinta itu dapat di ambil dari Kulaimah Syahadat.
LA ILLA HA ILALLAH.
Inilah kalimat cinta yang asli. Silakan saudara terjemahkan dengan bahasa apa saja. Maka disitu akan dapat ditemukan makna cinta yang sesungguhnya.
“Demi cinta kan korbankan segalanya!” Ungkapan ini benar. Nabi Ibrahim S.A. sudah membuktikannya. Anak yang begitu sangat beliau harapkan kehadirannya dengan sangat rela beliau serahkan untuk di potong demi cinta beliau kepada Allah. Kisah-kisah mulia lainnya sangat banyak di dalam Al Qur’an.
Barangkali bandingan ini tidak berimbang. Mari kita permudah kajiannya untuk mencari perimbangannya dalam mendapatkan pemahaman. Untuk itu saya akan membawa saudara sesaudara kepada nilai-nilai yang ada di dalam Cinta.

1. Penuh kerelaan

Apakah saudara rela memberikan apa saja bagi orang yang saudara cintai? Kalau belum maka berarti saudara tidak benar-benar mencintainya. Apakah yang saudara lakukan itu semua dengan penuh kerelaan? Angap iya.
Kalau dia yang telah saudara berikan apa saja itu tadi tidak bersikap sebagaimana yang saudara harapkan, apa sikap saudara? INGAT pemberian atas nama cinta tidak pernah berharap balasan.
Tapi pada kondisi di atas, saya sangat yakin, ada kekecewaan dalam diri saudara ketika sikap dari orang yang saudara telah berikan segalanya itu tidak seperti yang saudara harapkan. Jika kondisi ini terjadi sampai beberapa kali. Bisa jadi cinta di hati saudara itu akan berubah menjadi benci. KENAPA? Karena pada dasarnya saudara memberikan itu dengan mengharapkan balasan. Tidak penuh kerelaan.

2. Baik Sangka / mempercayai / setia

Apakah saudara selalu berbaik sangka (mempercayai bahwa dia tidak akan melakukan hal-hal yang tidak anda senangi) kepada orang yang saudara cintai? Anggap Iya lagi.
Kalau dia yang telah saudara percayai, berkhianat. Apa sikap saudara?
Atau contoh yang lebih gampang. Apakah saudara akan menutup mata untuk melihat cewek yang begitu cantik (bagi lelaki) atau cowok yang begitu keren (bagi wanita) ketika anda sudah membuat janji cinta dengan seseorang? BODOH DAN TIDAK MUNGKIN. Bila kondisi ini menjadi semakin rumit, dimana saudara punya kesempatan untuk bisa akrab dengan orang yang baru ini. Dan ternyata dia punya kelebihan hampir di semua sudut pandang saudara. Apakah saudara akan tetap berkukuh bahwa saudara telah membuat janji cinta dan tidak mungkin untuk mengingkarinya? KURANG CERDAS.

3. dan lain-lain.
Untuk mendapatkan nilai-nilai cinta yang lainnya, saudara dapat mengukurnya pada diri saudara atas apa yang saudara bisa rasakan dan ingin lakukan untuk Allah, Rasullah dan Orang Tua saudara. Pada tiga tempat ini. Terpatri cinta yang mutlak ada. Bila cinta kepada tiga hal ini tidak ada. Maka mulailah mendekatkan diri kepada penghitungan bekal bila kematian menjemput.
Dari dua nilai cinta itu saja di dapatkan nilai bahwa tidak mungkin untuk memberi tanpa berharap balasan dan setia dengan pilihan kepada manusia berbeda jenis kelamin. Dan ini nyata-nyata sama dengan tuntunan Islam. “PILIHLAH” kata pilihlah di pakai untuk menentukan calon suami / istri.
SETIAP MANUSIA INGIN MENJADI YANG TERBAIK DAN MEMILIKI YANG TERBAIK.
Saya tidak tahu dari mana kata ini berasal tapi saya yakin dan percaya bahwa kata ini sangat benar adanya. Dan sangat manusiawi. Islam sudah melengkapi kita dengan anjuran untuk memperbaiki dan menjaga silaturahmi kita dengan setiap manusia. HABLU MINNAN NAS WA HABLU MINNALLAH
Dengan silaturahmi kita tidak ada batasan atau halangan untuk akrab dengan siapa saja. Dari itu peluang kita untuk mendapatkan yang terbaik akan terbuka dengan sangat lebarnya.
Saudara tidak berhak untuk memisahkan yang hitam dari yang putih, yang tinggi dari yang rendah, dan lain-lain. Dengan kalimat saklar di sampaikan : “Jangan satu kaum menghinakan atau mengolok kaum lain, karena boleh jadi kaum yang dihinakan dan diolok-olok itu lebih baik dari pada kaum yang menghinakan dan mengolok-olok tersebut.”
Saya hanya baru mengenal sedikit ini tentang Islam. Sesungguhnya Islam jauh lebih dalam dari ini. Al Qur’an ada di mana-mana. Bahkan di internet ini sekalipun telah ada Al Qur’an online. Cari lah disana apa saja yang saudara ingin cari. Dan jadikan Al Qur’an itu petunjuk kehidupan. Ikuti itu, jangan ambil ayat-ayat untuk mendukung pendapatmu. Agar saudara terlihat pintar. Jangan. Mohon jauhkan saya dari sikap itu. Dan kepada Allah saya berdo’a semoga saya terjauh dari sikap yang seperti itu.
Yakinlah. Tidak ada satu persoalanpun yang tidak ada jawabannya di dalam Al Qur’an. ITU PASTI. Ini adalah Janji Allah. Dan tiada sesuatu yang sia-sia dari ciptaan Allah.
Pada bagian “sia-sia” ini. Saya mencoba menterjemahkan dengan kalimat, “jangan halangi dirimu untuk bergaul dengan siapa saja. Tapi jauhkanlah dirimu untuk berpikir / berbuat / bersikap yang dilarang oleh Allah.”
Sebagai bahan bantuan batuan saudara. Allah telah menciptakan orang tua saudara sebelum saudara. Orang tua saudara itu adalah perpanjangan tangan Allah dalam pemberian saran atas sikap saudara.
RESTU ALLAH ADALAH RESTU ORANG TUA. Selama orang tua merestui saudara Insya Allah restu Allah telah menyertai langkah saudara.
KECUALI, jika orang tua saudara memberikan saran ke arah kemusrikan. Maka pada kondisi ini pun sudah ada panduannya. Yakni sampaikan penolakan saudara dengan bahasa yang “KAULAN KARIMA”.
Saat ini cukup sampai disini dulu. Lain waktu, insya Allah saya sambung lagi perenungan untuk saya dan saudara saya ini.

Wassalam,

Indra Wita

2 komentar:

pencari kedamaian mengatakan...

Mantap mamak...!!!

@parewa minang alang zarock

ifra amil mengatakan...

Mantap... pakar cinta he he he